1. Pengantar
Kita saat ini berada dalam era informasi. Informasi merupakan dasar dari seluruh sistem ekonomi dan penciptaan kemakmuran. Masyarakat informasi berbeda dari masyarakat industri yang mengandalkan modal sebagai sumber daya strategisnya. Sumber daya strategis dalam masyarakat informasi adalah informasi atau pengetahuan (Naisbitt, 1986). Kita sedang berada dalam era di mana titik berat bisnis berpindah dari sektor manufaktur (real) kearah sektor jasa yang lebih mengandalkan informasi. Lebih banyak orang bekerja dalam bidang jasa dari pada dalam bidang manufaktur. Dalam masyarakat informasi, nilai atau simbol-simbol kemakmuran bergeser dari sesuatu yang bersifat real (tangible) atau “hard assets” menjadi sesuatu yang abstrak (intagible) (Toffler, 1991). Orang tidak menilai suatu perusahaan hanya berdasarkan assets fisik perusahaan tersebut, tetapi berdasarkan hal-hal seperti kemampuan perusahaan tersebut dalam menjangkau dan membina relasi, kemampuan staf pemasarannya dalam memasarkan produknya, dan kemampuan organisasi serta visi dari manajemennya.
Dalam masyarakat informasi hal yang paling penting bukanlah modal uang tetapi modal dalam bentuk ide-ide atau visi yang inovatif. Modal uang dapat dicari melalui pinjaman atau joint venture. Dengan ide-ide yang inovatif mudah meyakinkan banyak institusi keuangan untuk memberi pinjaman, atau masyarakat yang ingin turut serta melalui lembaga-lembaga reksadana (mutual funds). Selain itu globalisasi menyediakan sumber-sumber pembiayaan dari berbagai pelosok dunia.
Di dalam setiap perubahan masyarakat kita menyaksikan bahwa selalu ada “motor penggerak” yang menjadi basis sistem penciptaan kemakmuran masyarakat tersebut. Sebagai contoh, perubahan dari masyarakat agraris menjadi masyarakat industri dipacu oleh penemuan mesin uap yang melahirkan revolusi industri. Penemuan dan efek berantainya melahirkan mekanisasi dalam setiap sektor kehidupan masyarakat. Di lain pihak perubahan dari masyarakat industri menjadi masyarakat informasi di pacu oleh penemuan teknologi pemrosesan dan pendistribusian informasi seperti sistem komputer dan telekomunikasi. Mesin-mesin biasa yang dioperasikan secara manual digantikan oleh mesin-mesin yang dikontrol komputer. Komputer dioperasikan untuk melakukan tugas-tugas rutin yang berulang-ulang.
Namun, meskipun teknologi informasi yang ada sekarang mampu memroses dan mendistribusikan informasi dengan cepat, sistem ini masih mempunyai banyak kelemahan. Salah satu kelemahan utama dari teknologi informasi yang ada saat ini adalah ketidakmampuan untuk secara mandiri menyaring informasi yang relevan bagi pemakainya. Era informasi yang ditandai dengan revolusi dalam sistem pemrosesan dan pendistribusian informasi telah menghasilkan polusi informasi bagi kita baik di rumah maupun di tempat kerja. Kalau kita mendengar radio atau menonton tv, kita disajikan dengan berbagai ragam informasi yang sering tidak relevan dengan apa yang kita butuhkan. Hal yang sama terjadi dalam media cetak di mana kita terpaksa harus memilih sendiri informasi yang kita butuhkan dengan cara scanning dan skimming. Hal-hal seperti ini memboroskan waktu yang semestinya dapat kita gunakan untuk keperluan lain yang lebih produktif. Kita membutuhkan suatu sistem informasi yang lebih inteligen dari yang ada sekarang. Suatu sistem yang tidak hanya berfungsi sebagai mediator dalam menghubungkan kita dengan sumber-sumber berita seperti tv, radio, surat kabar, atau internet, tetapi juga berfungsi sebagai editor yang dapat menyaring informasi yang sesuai dengan kebutuhan kita. Tambahan pula sistem tersebut harus bersifat interaktif sehingga kebutuhan pemakai dapat dengan mudah dikomunikasikan.
2. Intelegensia Buatan dan Potensinya
Kemenangan komputer “Deep Blue” terhadap Super Grandmaster catur Garry Kasparov telah mengejutkan sekaligus membuka mata banyak orang di seluruh dunia terhadap potensi yang terdapat dalam komputer. Intelegensia komputer yang dapat berpikir sekian juta instruksi perdetik pada awalnya memang belum mampu mengalahkan manusia. Namun komputer dapat diprogram untuk belajar dari kelemahan masa lalunya. Tambahan pula kemampuan belajar komputer jauh lebih cepat dari kemampuan belajar manusia. Kemampuan dan kecepatan belajar yang tinggi, kapasitas memori yang dapat dengan mudah ditingkatkan kapan saja serta stamina fisik dan daya ingat yang stabil merupakan potensi intelegensia komputer yang tak tertandingi oleh manusia.
Intelegensia buatan merupakan bidang yang berkembang pesat saat ini. Riset-riset dalam bidang intelegensia buatan dikelompokkan ke dalam empat bidang utama yaitu:
· Basis pengetahuan dan sistem pakar. Riset-riset dalam bidang ini bertujuan mengembangkan metoda-metoda atau sistem-sistem yang mampu mencari alternatif pemecahan masalah untuk pengambilan keputusan. Basis pengetahuan dan sistem pakar mempunyai aplikasi yang luas seperti dalam pembuatan rangcang-bangun, diagnosa kedokteran, maupun perbankan. Metoda-metoda seperti jaringan saraf tiruan, algoritma genetik, atau teori chaos, banyak diminati kalangan bisnis saat ini baik dalam mencari solusi optimal dari persoalan-persoalan yang rumit maupun untuk forescasting.
· Bahasa natural. Riset dalam bidang ini bertujuan untuk mengembangkan suatu sistem yang memungkinkan komputer dapat berbicara bahasa manusia. Tanda-tanda kemajuan riset dalam bidang ini, seperti dalam pengenalan pola dan sintesizer suara, menunjukkan bahwa komputer mampu mengenal percakapan atau instruksi dengan suara.
· Simulasi kemampuan indera manusia. Riset dalam bidang ini bertujuan untuk melengkapi komputer dengan kemampuan indera manusia seperti melihat, mendengar, merasa, mencium dan berbicara. Kemampuan seperti ini memungkinkan komputer menerima data dari berbagai sumber seperti yang terjadi pada manusia dan membuka kemungkinan antarmuka (interface) dengan lingkungannya. Kemampuan seperti ini juga membuka peluang aplikasi yang luas seperti, sistem perespon suara (voice response system), system pengenalan percakapan (speech recognition system), atau sistem pengenalan pola (pattern recognition system).
· Robotika. Riset dalam bidang ini bertujuan mengintegrasi komputer dan robot sehingga dapat melakukan tugas-tugas yang bersifat rutin atau yang berbahaya bagi manusia. Penggunaan robot dalam industri manufaktur bukanlah sesuatu yang baru saat ini. Namun penggunaan robot dalam industri jasa masih agak langka.
3. Menuju Masyarakat Informasi Berbasis Intelegensia Buatan
Era kita saat ini sedang bergeser dari sekedar era informasi menuju era informasi yang berbasis intelegensia buatan, atau era AI. Mesin-mesin elektronik yang tadinya hanya bersifat melakukan pekerjaan rutin yang diprogram sekarang mampu melakukan pekerjaan yang berubah-ubah tanpa intervensi manusia. Dalam bidang pemrosesan dan pendistribusian informasi, segala sistem yang tadinya hanya bersifat pasif mulai digantikan oleh sistem-sistem informasi berintelegensia yang aktif membuat keputusan sendiri.
Salah satu sebab utama timbulnya kebutuhan akan mesin-mesin berintegensia buatan adalah karena era informasi dengan kecepatan pemrosesan dan pendistribusian informasi yang tinggi telah menimbulkan polusi informasi. Pada awalnya masyarakat merasa gembira dan terpesona dengan kemampuan sistem tersebut. Namun sejalan dengan berkembangnya waktu, sistem yang kita ciptakan ini dirasakan malah lebih banyak mendatangkan persoalan dari pada keuntungannya. Ada begitu banyak informasi yang diproduksi setiap hari sehingga kita kebingungan mengelolanya. Pekerjaan klipping informasi yang awalnya merupakan hal yang ringan dan menyenangkan sekarang ini merupakan suatu hal yang sulit, membutuhkan biaya dan ketrampilan profesional. Dalam bidang penelitian, banyak ilmuwan mengeluh bahwa dibutuhkan lebih sedikit waktu mengerjakan suatu penelitian dari pada waktu yang dibutuhkan untuk mengecek apakah penelitian itu sudah pernah dilakukan atau tidak. Seperti yang dikatakan oleh Naisbitt (1986), “We are drawning in information but starved for knowledge. …..The emphasis of the whole information society shifts, then, from supply to selection.”
Kebutuhan akan sistem informasi berbasis intelegensia buatan yang mampu berfungsi sebagai mediator maupun editor memang sudah lama dinantikan. Di negara-negara maju, ada kecenderungan untuk menciptakan suatu sistem informasi yang mampu menghentikan anak-anak di bawah umur mengakses informasi tertentu seperti pornografi di media cetak dan media elektronik (tv, film dan komputer). Kecenderungan ini disambut positif baik oleh para orangtua, media elektronik dan perusahaan manufaktur. Idenya adalah dengan memasang suatu chip dalam tv, sehingga orangtua dapat mengontrol jenis program apa saja yang dapat ditonton oleh anak-anak. Hal yang hampir mirip juga terjadi dalam usaha orangtua mengontrol apa yang dijajan anaknya di sekolah atau di luar rumah. Melalui uang jajan dalam bentuk “smart card” yang sudah diprogram, orangtua dapat membatasi hal-hal apa saja yang dapat dibeli oleh anaknya. Bentuk-bentuk penggunaan “smart card” makin “merakyat” melalui kartu penduduk, kartu jaminan sosisal, atau ID Card lainnya. Penggunaan kartu penduduk dengan “smart card” banyak ditentang karena berpotensi untuk disalahgunakan bagi kepentingan politik, golongan atau bisnis.
Di dalam dunia bisnis saat ini, kecenderungan penggunaan sistem informasi berbasis intelegensia buatan makin menjadi tuntutan yang wajar. British Telecom menggunakan komputer sebagai pengganti operator untuk menjawab panggilan telepon atau pemberian informasi kepada langganan. Selain itu, fokus investasi teknologi informasi dalam bisnis makin beralih dari sekedar pemrosesan data (data processing) kearah suatu sistem informasi berinteligensia sendiri yang mampu menghasilkan berbagai alternatif keputusan strategis menggunakan metoda-metoda dan model-model analitik. Ada berbagai nama untuk sistem seperti ini seperti intelligent decision support system, expert support system atau knowledge-based decision support system (Courtney et al., 1987; Dalal dan Yadaf, 1992; Goul dan Tonge, 1987; Klein dan Methlie, 1990; Luconi et al., 1986; Moore, 1992).
4. Kebebasan atau Penjajahan Baru?
Pemberian intelegensia dalam suatu mesin membuat mesin tersebut berubah dari suatu mesin yang “bodoh” dan pasif menunggu perintah menjadi “ a thinking machine” yang aktif membuat keputusan sendiri sehingga dapat beroperasi tanpa intervensi manusia. Dalam hal apapun, tujuan dari pemberian intelegensia adalah agar supaya suatu mesin mampu beroperasi sendiri bila diperlukan. Pemberian intelegensia dapat dilihat juga sebagai penyerahan sebagian atau sepenuhnya hak kontrol manusia kepada mesin. Sebagai contoh, dengan menggunakan autopilot seorang kapten pesawat menyerahkan kontrol dan tanggung jawab penerbangan yang ada padanya kepada mesin.
Di masa depan penggunaan mesin-mesin berintelegensia buatan yang dapat berpikir dan mengambil keputusan sendiri akan makin meningkat dan menggeser peranan manusia. Penggunaan mesin-mesin seperti itu di satu pihak menolong manusia dari melakukan pekerjaan-pekerjaan yang selama ini hanya dapat dilakukan oleh para pakar seperti diagnosa penyakit, perancangan model bangunan, atau analisa peluang bisnis. Namun di lain pihak penggunaan mesin-mesin berintelegensia juga akan berdampak pada peningkatan pengangguran yang meluas, dari aras “blue collars” ke aras “white collars”. Pekerjaan-pekerjaan di masa depan akan semakin tinggi tuntutan ketrampilan dari pada yang ada saat ini. Penggunaan teknologi EDI (Electronic Data Interchange) sudah mulai masuk pada bidang-bidang seperti akunting dan bea cukai. Tambahan lagi, kemampuan mesin-mesin berintelegensia buatan untuk menggabungkan proses analisa data dengan penulisan laporan secara otomatis, akan mengurangi secara drastis kebutuhan akan tenaga ahli seperti analis pasar, akuntan/finansial, pengacara, dsb. Hasil pemrosesan data akan secara automatis diteruskan ke bagian program yang menginterpretasi data tersebut dan sekaligus menulis laporan sendiri berdasarkan format tertentu. Perangkat lunak yang dapat menulis analisa laporan keuangan perusahaan secara otomatis sudah mulai banyak tersedia (Merten, 1989). Sejalan dengan makin canggihnya teknologi intelegensia buatan, akan makin banyak fungsi pakar-pakar profesional seperti pengacara dapat digantikan oleh mesin (Brown, 1997). Hal senada juga dikatakan oleh salah seorang pakar perangkat lunak sbb (Dunkerley, 1996):
It may not be too far into the future before law books are computerized and [voice] recognition systems are capable of digesting and assimilating the arguments in a court of law, weighing them against each other, using case history as a point of reference.
Di satu pihak penggunaan mesin-mesin berintelegensia buatan ini akan cenderung mendekatkan kepakaran manusia yang tadinya bersifat langka menjadi tersedia bagi semua orang. Setiap orang mampu mengakses pengetahuan tertentu yang tadinya hanya dimiliki oleh para pakar. Teknologi menyediakan potensi untuk “share” pengetahuan yang sama. Namun di lain pihak, penggunaan mesin-mesin berintelegensia juga memungkinkan sejumlah kecil manusia untuk mengontrol manusia lain melalui mesin-mesin atau produk-produk berintelegensia sendiri (contoh “smart card”, atau tv).
Hal yang menjadi pertanyaan adalah apakah teknologi informasi berbasis intelegensia buatan itu bersifat membebaskan manusia dari belenggu keharusan bekerja ataukah suatu bentuk penjajahan modern (new feudalism atau new colonialism)? Penggunaan mesin-mesin berintelegensia serta robot-robot dalam pabrik-pabrik apakah suatu bentuk pembebasan manusia ataukah suatu bentuk pemiskinan manusia secara tidak langsung? Karena melalui bekerja seseorang mendapatkan nafkahnya. Jika penerapan robot atau mesin-mesin berintelegensia kemudian membuat semakin banyak orang kehilangan pekerjaan, maka suatu tragedi besar akan terjadi. Kalau hal ini terjadi maka teknologi bukan lagi suatu berkat tetapi sudah menjadi suatu ancaman bagi kelangsungan manusia.
5. Menuju Masyarakat Artifisial?
Kita saat ini sedang menuju kearah suatu bentuk dan sistem masyarakat di mana landasan yang menopang sendi-sendi masyarakat kita adalah intelegensia mesin. Suatu sikap dan kebiasaan baru akan terbentuk sebagai konsekuensi dari teknologi yang kita gunakan. Sikap dan kebiasaan itu tidaklah terbatas pada unsur-unsur rasional seperti penalaran yang merupakan ciri masyarakat modern, tetapi meluas pada unsur seni sebagai akibat penggunaan alat (tool) di dalam menciptakan seni tersebut. Sebagai akibat tuntutan rasional yang makin tinggi dalam masyarakat modern, maka orang semakin dituntut untuk mampu mengendalikan luapan emosionalnya. Ukuran-ukuran rasional berakibat pada bentuk-bentuk hiburan serta kemasannya yang semakin canggih mengikuti teknologinya. Luapan emosional kita semakin tidak terpuaskan dengan teknik-teknik penyajian hiburan sederhana. Film-film saat ini membutuhkan teknologi komputer untuk membuat animasi meninggalkan cara-cara lama. Musik-musik saat ini membutuhkan teknologi komputer untuk menciptakan animasi suara. Hal yang sama terjadi juga dalam bidang melukis dan senirupa seperti keramik, patung, dsb.
Saat ini makin banyak anak-anak terutama di kota-kota besar lebih tertarik bermain computer games dari pada permainan-permainan tradisional. Computer games bersifat interaktif sehingga mampu dengan mudah memacu luapan emosional seperti ketegangan, kegembiraan ataupun kekecewaan yang mendalam. Memang permainan tradisional seperti mobil-mobilan juga mampu memacu luapan emosional namun computer games mempunyai variasi yang lebih banyak dan memberikan efek suara dan gambar yang sangat menarik dan hidup. Selain itu permainan-permainan tradisional seperti lego saat ini sudah dibuatkan dalam bentuk CDROM yang memungkinkan variasi dan aras kompleksitas yang berbeda-beda dapat disediakan dengan mudah.
Kita juga saat ini mengamati kecenderungan baru di kalangan anak-anak dan orang dewasa untuk bermain Tamagochi, memelihara hewan atau tumbuhan artifisial. Apapun yang anda pelihara harus diberi makan atau minum persis seperti anda memelihara hewan atau tumbuhan-tumbuhan biasa. Tidak jauh berbeda dengan permainan ini dan sedikit lebih kompleks adalah apa yang dikenal dalam bidang komputer sebagai realitas virtual (virtual reality). Teknik realitas virtual memanfaatkan segala kecanggihan teknologi komputer dalam bidang multimedia untuk menciptakan realitas imajiner. Dalam tahap sekarang teknologi ini masih terbatas penggunaannya dalam bidang pembuatan film fiksi dan simulasi perancangan seperti bangunan, atau kota. Namun diperkirakan di masa depan akan berkembang menjadi dunia fantasi bila teknologi hologram telah mampu diciptakan dengan baik.
6. Acuan
Brown, D. (1997). Cybertrends: Chaos, Power, and Accountability in The Information Age. Penguin Group.
Courtney, J.F., Paradise, D.B, and Mohammed, A. (1987). A Knowledge-Based DSS for Managerial Problem Diagnosis. Dec. Sci. 18 (3) : 373-399.
Dalal, N.P, and Yadav, S.B. (1992). The Design of A Knowledge-Based DSS to Support the Information Analysis in Determining Requirements. Dec. Sci. 6 : 1373-1388.
Dunkerley, M. (1996). Computer Tchnology and The Jobless Economy? Computer Technology and The World of Work. Polity Press, London.
Goul, M., Henderson, J.C., and Tonge, F.M. (1992). The Emergence of AI as a Reference Discipline for DSS Research. Dec. Sci. 6 : 1263-1276.
Klein, M., and Methlie, L.B. (1990). Expert Systems a Decision Support Approach with Applications in Management and Finance. Addison-Wesley, Wokingham, England.
Luconi, F.L., Malone, T.W, and Scott-Morton, M.S. (1986). Expert Systems: The Next Challenge for Managers. Sloan Man. Rev. 27 (4) : 3-14.
Merten, Peter (1989). Derivation of Verbal Expertises from Accounting Data. In Pau, L.F., Motiwalla, J, Pao, Y.H., and The, H.H. (eds). Expert Systems in Economics, Banking and Management, North-Holland, Amsterdam, pp 341-350.
Moore, J.S.(1992). A Prototype Expert DSS for Market Appraisal of the Single Family Residence. Dec. Sci. 6 : 1406-1422.
Naisbitt, J. (1986). Megatrends. Warner Books, New York.
Toffler, A. (1970). Future Shock. Pan Books, London.
Toffler, A. (1991). Powershift. Bantam Books, New York.
Yah. Welcome to the AI space
salam kenal,,
terus semangat buat bikin blog n artikelnya bermamfaat
-putra-
http://easystudy.wordpress.com
http://footballseven.wordpress.com
http://funphoto.wordpress.com
Terima kasih mudah-mudah ini berguna bagi kita semua